Let Love Lead the Way #2#

Pesawat airlines tiba di bandara. Nate melangkahkan kaki menyusuri koridor dengan koper hitam ditangannya. Syal putih miliknya terkibas oleh angin. Nate melepaskan pandangan ke sekeliling. Ramai. Penumpang sibuk dengan urusannya masing-masing. Nate melirik jam tangannya, pukul 1 siang. Akhirnya Nate tiba di kota ini, kota yang masih menyimpan sebagian dari masa lalunya. Dia tidak bisa mengingat semuanya, namun bayang-bayang masa lalu yang masih segar diingatan Nate adalah pada saat insiden mengerikan itu terjadi. Nate memejamkan matanya. Seketika potongan-potongan kejadian masa lalu itu berkelebat diingatannya, membawanya pada saat dia masih berusia 2 tahun lebih. Suara klakson mobil yang melengking keras disertai teriakan histeris ibunya masih terngiang ditelinganya. Serpihan dari pecahan kaca mobil yang tertancap di kulitnya seolah masih jelas terasa, membuat rasa nyeri yang tak tertahankan.

“bos baik-baik saja?” suara asisten Ru membuyarkan lamunannya

Kini sudah 19 tahun lamanya. Ironisnya, hanya kenangan itu yang masih terus menghuni pikiran Nate. Di sepanjang perjalanan Nate tak henti-hentinya menatap bangunan-bangunan yang dia lewati. Semuanya nampak berubah. Sangat berbeda jika dibandingkan dengan 19 tahun silam. Nate tersenyum menatap patung yang masih berdiri kokoh di bundaran HI, cuma ini objek yang tidak berubah, pikirnya.

Satu jam kemudian mobil yang mereka tumpangi berhenti di depan sebuah rumah yang di cat berwarna warna putih.

“selama di kota ini bos akan tinggal di rumah ini” ucap asisten Ru setelah mereka masuk ke dalam rumah yang di dominasi oleh warna putih tersebut.

“saya sudah berusaha sebisa mungkin untuk mendekorasi rumah ini sesuai dengan keinginan bos. Semoga saja bos menyukainya” ucap asisten Ru kemudian

“aku suka. Terima kasih atas kerja kerasnya, asisten Ru” ucap Nate sambil tersenyum

Nate segera menuju kamarnya. Rasanya dia ingin segera merebahkan tubuhnya ke pembaringan. Hari ini cukup melelahkan baginya. Asisten Ru mengetuk pintu dari luar.

“masuk” ucap Nate

Asisten Ru membuka pintu. Wanita itu lalu berdiri tepat disamping Nate.

“apa bos mau bertemu dengan nona Viona hari ini juga?”

“saya akan mengatur pertemuannya kalau bos menginginkannya”

Nate berpikir sejenak. Bertemu Viona? Apakah itu harus? Nate bahkan sama sekali tidak punya keinginan untuk bertemu dengan gadis itu. Satu-satunya alasan yang membawanya ke kota ini karena dia ingin menuruti kemauan ibunya. That’s all. Lagipula untuk apa bertemu dengan orang yang sudah memiliki pacar? Dia menggeleng.

“pertemuannya nanti saja”

Asisten Ru hanya bisa menerima keputusan bosnya itu tanpa berani bertanya apapun lagi.

“aku ingin jalan-jalan sebentar” ucap Nate lagi

Asisten Ru mengikuti langkah Nate dari belakang. Setengah jam kemudian mereka tiba di salah satu pusat perbelanjaan. Rupanya Nate mencoba menghilangkan sedikit beban di pikirannya dengan berbelanja buku. Asisten Ru mengikuti jejak bosnya dengan memilih-milih novel.

Dari arah berlawanan juga tampak dua orang tengah sibuk memilih-milih buku. Salah satu di antaranya sedang membaca sinopsis yang terdapat dibagian belakang dari novel yang dipegangnya. Dia nampak serius dengan bacaannya.

“ahhh ceritanya kurang menarik” ucap Viona sambil meletakkan kembali novel tersebut pada tempatnya.

Pada saat bersamaan Viona menangkap sosok yang sudah tidak asing lagi buatnya. Dia mencoba untuk memastikan pandangannya. Viona menatap sosok diseberang dengan seksama. Gadis itu bahkan tidak berkedip sedikitpun. Tidak salah lagi sosok itu adalah Nate. Pangeran impiannya ada disini!

“bagaimana kalau novel yang ini?” Bella menawarkan

Namun Viona sama sekali tidak mendengarkan ucapan Bella. Matanya terus mengawasi gerak-gerik sosok yang ada diseberang.

“hei!” Bella mengagetkan Viona

“ada apa?” Viona merasa sedikit terganggu

“kau sedang lihat apa? Serius sekali”

Viona tidak menjawab. Pikirannya benar-benar lagi tidak fokus.

“bagaimana kalau novel yang ini saja?” Bella mengulang pertanyaannya.

“tidak. Aku tidak suka novel itu” ucap Viona tanpa sedikitpun melirik ke arah novel yang dipegang Bella.

“dibaca dulu sinopsisnya. Don’t judge the book by it’s cover!” Bella menyodorkan novel yang sedari tadi dipegangnya.

Namun bukannya menerima novel tersebut, Viona malah pergi meninggalkan Bella yang terbengong-bengong sendiri.

“kemana perginya orang itu? Perasaan tadi masih ada disini?” gumam Viona. Matanya berusaha mencari-cari sosok Nate di segala penjuru. Dia menemukannya. Viona segera berlari mendekati sosok tersebut. Dia refleks menahan pergelangan tangan Nate.

“Nate………..”

“apa benar kau adalah Nate??” viona menatap Nate tajam.

Ternyata Viona benar. Sosok yang saat ini tengah berdiri dan berdekatan dengannya adalah benar-benar Nate.

“maaf. Kau siapa?”

Nate sangat merasa risih dengan perlakuan Viona yang tiba-tiba memegang pergelangan tangannya. Asisten Ru menghentikkan langkahnya. Wanita itu terkejut melihat seorang gadis yang berada disamping Nate. Namun, dia berusaha untuk tidak ikut campur. Lagipula sudah jelas sekali kalau Nate tidak ingin bertemu dengan calon isterinya itu.

“ini aku….. Viona”

“Perjanjian masa lalu. Apa kau sudah lupa?” Viona mencoba menjelaskan

Nate terdiam. Oh, jadi ini yang namanya Viona? Si penagih janji masa lalu itu.

“apa kau sama sekali tidak mengenalku??!” tanya Viona

Nate tersenyum sinis. Dia tidak menyangka akan bertemu dengan Viona hari ini. Ini pasti adalah hari paling sial yang pernah ada.

“mari kita bicara” ucap Nate kemudian

Nate pun berlalu tanpa menjawab pertanyaan Viona. Asisten Ru meninggalkan mereka berdua di sebuah café terdekat. Cukup lama mereka bungkam. Sesekali Viona menatap wajah Nate yang nampak dingin terhadapnya.

“apa yang kau inginkan dariku, nona?” Nate memecahkan kesunyian

“apa?” Viona bertanya balik

“katakan saja apa maumu”

“apa maksudmu?” Viona bingung

“apa kau ingin menikah denganku?”

Seketika wajah Viona merah merona. Dia merasa sangat malu sekaligus senang mendengar pertanyaan Nate. Ternyata pangerannya tidak suka basa-basi. Dia langsung to the point. Viona menundukkan kepalanya sambil senyum-senyum sendiri. Nate merasa sangat kesal dengan tingkah Viona. Diapun berlalu begitu saja meninggalkan Viona yang masih belum sadar kalau ternyata Nate telah pergi meninggalkannya sendirian di café itu.

Asisten Ru segera menyalakan mesin mobil setelah dia menyadari kalau bosnya telah berada di dalam mobil tersebut. Wajah Nate kelihatan sangat kesal.

“apa yang terjadi? Dimana nona Viona?”

“aku meninggalkannya di café. Buang-buang waktu saja” jawab Nate ketus

“ayo kita pulang” ucap Nate kemudian

“baiklah”

Diperjalanan pulang pikiran Nate merasa terusik karena pertemuannya dengan Viona barusan. Apa pantas gadis seperti itu disandingkan dengannya? Benar-benar sangat mengganggu!

Sementara itu di tempat lain Bella tengah panik mencari-cari sahabatnya yang tiba-tiba menghilang tanpa pesan. Kaki-kakinya terasa sedikit sakit karena dipaksa berjalan mengelilingi pusat perbelanjaan mencari Viona. Beberapa saat kemudian akhirnya dia berhasil menemukan sosok yang dicarinya. Seketika dia merasa senang tetapi juga jengkel.

“hei, aku mencarimu kemana-mana ternyata kau malah sedang bersenang-senang disini” Bella menepuk punggung sahabatnya itu. Viona yang sedari tadi masih melamun itu tiba-tiba tersentak kaget.

“Bella??! Kenapa kau bisa berada disini?” Viona masih setengah sadar

“justru aku yang harus bertanya. Apa yang kau lakukan disini sendirian, huh??”

“aku tidak sendirian. Aku sedang bersama……….” Tiba-tiba Viona tersadar kalau dirinya benar-benar sendirian.

“kemana dia?”

Viona mencari-cari sosok Nate yang sejak tadi masih duduk dihadapannya namun dia tidak menemukannya. Apa yang barusan di alaminya itu hanya mimpi? Tidak! Tadi jelas sekali kalau Nate sedang bersamanya. Bahkan dia masih ingat pertanyaan terakhir Nate kepadanya soal pernikahan itu.

“kau sedang bersama siapa?” tanya Bella penasaran

“seseorang!” jawab Viona singkat

“ayo pulang” ajak Viona.

Dalam hati dia merasa sangat yakin kalau dirinya tidak sedang bermimpi. Itu memang Nate. Pangerannya telah datang untuk menemuinya. Tetapi kenapa tiba-tiba Nate menghilang? Padahal dia belum sempat menjawab pertanyaan itu.

“apa kau ingin menikah denganku?” pertanyaan Nate seolah terekam secara alami diingatan Viona.

“iya. Aku ingin sekali menikah denganmu” jawab Viona dalam hati. Tetapi sudah terlambat baginya untuk mengucapkannya.

“ahhhhh….., kenapa aku tidak menjawabnya. Bodoh sekali aku!” Viona nampak kesal dengan diri sendiri.

**

Sesampainya Viona di kamar kos, dia segera menghubungi sekretaris Jun lewat telepon. Dia ingin menanyakan alamat tempat tinggal Nate saat ini. Banyak hal yang perlu dia bicarakan dengan pria idamannya itu. Namun seketika hatinya menjadi ragu untuk bertemu Nate lagi. apalagi pertemuan pertama mereka yang terkesan sangat kaku. Dapat dirasakannya kalau pria itu berlaku sangat dingin terhadapnya. Sepertinya pria itu merasa terganggu dengan kehadirannya.

Keesokan harinya masih pagi-pagi sekali Viona memberanikan diri untuk menemui Nate di kediamannya. Gadis itu ingin memastikan sendiri mengapa Nate terlalu bersikap dingin terhadapnya dan meninggalkannya sendirian di café itu. Viona memencet bel yang terdapat di sisi kiri atas pintu.

“siapa?” terdengar suara wanita dari dalam. Pintu terbuka.

“nona??!” asisten Ru hampir tidak percaya

“permisi. Maaf, apakah aku bisa bertemu dengan Nate?” tanya Viona dengan nada sopan.

Asisten Ru membisu. Wanita itu tidak tahu harus menjawab apa. Dia sangat tahu betul kalau bosnya itu tidak ingin bertemu dengan Viona lagi. Bahkan Nate bisa marah jika dipaksa untuk menemui gadis ini. Asisten Ru benar-benar bingung harus berbuat apa. Wanita itu masih terus mematung di balik pintu.

“siapa yang datang, asisten Ru?”

Nate tiba-tiba muncul dibelakang asisten Ru. Tangannya masih memegang handuk yang dipakainya untuk mengeringkan rambutnya yang masih basah sehabis mandi tadi. Menyadari pertanyaannya yang masih belum dijawab, Nate menolehkan kepalanya ke luar pintu dan betapa terkejutnya dia melihat sosok yang berdiri diluar. Matanya terbelalak menatap sosok yang juga tengah terpaku menatapnya dari luar. Viona tampak terpesona melihat sosok Nate yang hanya memakai kaos berwarna putih dipadukan dengan celana panjang coklat susu. Sangat casual. Semakin menambah aura menarik dari sosok pria itu. Mata gadis itu benar-benar tersihir dibuatnya.

“kau??!” ucap Nate tertahan

Viona melambaikan tangannya kepada Nate sambil tersenyum. Sebaliknya, Nate sama sekali tidak menunjukkan ekspresinya sedikitpun.

“apa yang membawamu kemari?” tanya Nate setelah dia mempersilahkan Viona untuk duduk di ruang tamu. Mereka saling berhadapan.

“aku kesini karena……….” Viona tidak melanjutkan kata-katanya. Sesaat dia teringat kejadian kemarin di café.

“kenapa kau meninggalkan aku kemarin, huhh?”

“apa??”

“setidaknya kau beritahu aku kalau kau akan pergi. Kenapa malah meninggalkanku seperti itu??” Viona sedikit kesal karena Nate tidak meminta maaf soal kejadian kemarin.

“apa itu perlu?”

Pertanyaan Nate membuat Viona jengkel.

“bukannya meminta maaf malah bersikap dingin. Dasar orang kaya sombong!” ucap Viona pelan. Dia tidak ingin Nate mendengar apa yang dikatakannya barusan.

“apa kau bilang??!” ternyata Nate mendengarnya. Viona menjadi gugup sekaligus takut. Nate benar-benar memiliki kharisma yang membuat semua orang tertunduk dihadapannya.

“Dengar. Jangan pernah datang lagi kerumah ini. Aku tidak suka. Aku benar-benar merasa terganggu!”

Viona sangat kaget mendengar ucapan Nate. Namun, dia berusaha menahan emosinya. Dia teringat akan kata-kata ayahnya yang menyuruhnya untuk bersikap baik terhadap Nate. Viona menghela napas panjang.

“perasaanku benar-benar berubah jika aku melihatmu. Bad mood!”

Nate berdiri hendak meninggalkan Viona. Dalam hati dia menggerutu. Buat apa berlama-lama berbicara dengan gadis bodoh seperti itu. Buang-buang waktu saja. Viona yang sedari tadi mencoba menahan diri seketika menjadi kesal. Dia tidak habis pikir kenapa pria di hadapannya itu berlaku sangat dingin kepadanya? Kenapa sejak awal pertemuan Nate seperti kelihatan sangat membencinya? Apa salahnya? Viona ingin sekali menanyakan hal itu kepada Nate. Tetapi jangankan mau menjawab semua pertanyaannya Nate bahkan sama sekali tidak mau melihat wajahnya

“lalu bagaimana dengan perjanjian dan pernikahan itu?”

Viona mencoba mengingatkan Nate akan perjanjian itu. Dia berusaha untuk tetap menjaga sikapnya dihadapan pria itu.

“apa kau pikir segampang itu mau menikah?? Aku bahkan sama sekali tidak mencintaimu”

“sebenarnya apa yang kau inginkan dariku, huhh??!

Nate mulai menumpahkan kekesalannya. Dia mendekatkan wajahnya ke wajah Viona. Kedua matanya berkilat-kilat seperti ingin menelan bulat-bulat sosok yang berada dihadapannya. Atau bahkan dia sama sekali tidak sudi memangsanya. Dia hanya berusaha untuk menakut-nakutinya saja. Viona refleks menarik tubuhnya kebelakang. Gadis itu menjadi semakin gugup bercampur takut dibuatnya.

“aku…, aku……..” ucap Viona terbata-bata

“kita tidak akan menikah. Aku tidak akan menikahimu!” Nate memotong ucapan Viona.

“aku rasa pembicaraan kita sudah selesai”

Nate segera beranjak ke kamarnya. Nate benar-benar sudah tidak tahan lagi dengan sikap Viona. Kenapa gadis ini selalu saja mengungkit perjanjian di masa lalu itu? Apa dia sama sekali tidak punya harga diri? Nate benar-benar merasa sangat terusik.

Viona tersentak kaget saat Nate membanting pintu kamarnya dengan cukup keras. Gadis itu hanya bisa terbengong-bengong. Asisten Ru mendekati Viona. Dia tahu betul kalau Viona merasa sakit hatinya diperlakukan seperti itu. Siapa yang menyangka kalau Nate bisa berlaku kejam seperti layaknya seorang penjahat. Yang dia tahu bosnya belum pernah memperlakukan siapapun sebelumnya seperti tadi. Kejadian barusan itu merupakan hal pertama yang disaksikannya. Wanita itu berusaha untuk menghibur Viona.

Sementara itu, Nate yang tengah berada di dalam kamarnya tampak uring-uringan. Seketika hatinya menjadi tidak tenang. Dia merasa sangat tertekan. Kali ini apa yang dirasakannya sungguh jauh berbeda dari sebelumnya. Bahkan dia sama sekali tidak menginginkan perasaan yang seperti ini. Sulit dijelaskan. Apa yang dirasakannya terhadap gadis itu tiba-tiba menjadi asing dan berbeda. “Perasaan seperti apakah ini? Kenapa ini terasa begitu menyiksa?” Nate mengutuk perasaan yang memenuhi hatinya. Tangannya meraih segelas air mineral yang terletak di atas meja. Diteguknya sampai habis tak tersisa isi dalam gelas itu. Hatinya bisa sedikit di netralkan. Apapun alasannya, perasaan ini tidak boleh dibiarkan berlama-lama mendiami hatinya. Dia tidak bisa terus-terusan seperti ini. Harus ada yang menghentikannya. Ya, bagaimanapun caranya dia harus menghentikannya. Meskipun harus membunuh perasaannya sendiri.

**

It’s Sunday afternoon. Nate free hari ini. Dia ingin jalan-jalan tapi belum diputuskannya mau kemana. Sejenak terlintas dibenaknya kalau dia ingin menikmati pemandangan pantai kota ini. Ya, suasana sejuk dan damai yang dia rindukan.

Nate membelokkan stir melaju melewati jalur kampus menuju tempat tujuan. Ketika melintasi gerbang kampus, matanya menangkap sosok yang tidak asing lagi. Viona tengah berdiri di depan halte kampus ditemani tiga orang temannya. Gadis itu nampak menahan kenderaan untuk tumpangan mereka. Teman-temannya juga nampak bernegosiasi dengan pemilik tumpangan tersebut sambil sesekali tertawa lepas.

Sebenarnya Nate tidak ingin terlalu memperdulikan mereka. Bahkan dia ingin segera berlalu dari tempatnya. Namun seketika dia teringat akan perjanjian masa lalu itu. Nate memarkirkan mobil dipinggir halte, tepat disamping gadis-gadis itu.

“mau kemana?” Nate melongokkan kepala ke luar jendela

Mereka serentak memandang kearah Nate. Viona nampak terkejut melihat Nate. Sebaliknya teman-teman Viona tak henti-hentinya menatap wajah Nate sambil colek-colekkan satu sama lain. Nate keluar dari mobilnya kemudian berjalan mendekati mereka. Seketika mereka nampak diam. Nate menatap Viona yang sedari tadi juga diam.

“memangnya mau kemana?” Nate mengulang pertanyaannya barusan

“mau pulang” akhirnya Viona membuka suara

Ketiga temannya hanya melongo tak berkedip. Nate tersenyum ke arah mereka. Mereka kemudian cengar-cengir sendiri.

“aku antar ya”

Mereka kembali membisu. Aneh!

“ayo!”

Viona nampak menurut saja ketika Nate menarik tangannya memintanya untuk masuk ke dalam mobil. Ketiga temannya juga mengikuti langkah mereka berdua dari belakang. Pikiran Viona menerka-nerka. Entah angin apa yang membawa pria ini kemari. Tiba-tiba saja pria itu sudah muncul dihadapan mereka. Sikap Nate kepadanya juga berubah. Berbeda 180 derajat dibandingkan ketika mereka pertama kali bertemu. Pasti semalam dia habis bermimpi aneh.

Sepanjang perjalanan Viona membisu sambil sesekali melemparkan senyum ke arah teman-temannya yang tak henti-hentinya bersenda gurau di jok belakang. Suasana dalam mobil menjadi ramai dengan derai tawa mereka. Sesekali mereka berbisik-bisik sambil tersenyum malu-malu jika Nate menolehkan wajahnya ke arah mereka.

Mobil kembali sepi ketika ketiga temannya turun dari mobil satu per satu. Hanya tinggal mereka berdua kini yang berada di dalam mobil sporty tersebut.

“mau langsung pulang atau ……?” tanya Nate memecah kesunyian

Viona menoleh ke arah Nate.

“kau mau kemana?”

“kenapa malah balik bertanya?”

Nate menatap Viona sekilas sambil tersenyum lalu kembali memperhatikan jalan di depannya. Gadis itu kembali diam.

“sore ini ada kegiatan tidak?”

Viona menggeleng.

“tidak ada. Memangnya kenapa?”

“ikut aku dulu ya”

“kemana?”

“pokoknya ikut saja”

Viona tak menyahut. Matahari mulai turun ke ufuk barat. Nate memacu mobil memasuki daerah pantai. Tak banyak yang berubah. Hanya saja penduduknya semakin padat. Nate langsung menyukai tempat ini. Dia memarkirkan mobilnya lalu mengajak Viona untuk turun. Pemandangan yang sangat indah. Disebelah jalan terdapat gunung dan disebelahnya lagi laut dan pantai yang bersih. Mereka pun dibatang pohon kayu yang tumbang sambil memandang ombak yang sesekali menghempas pinggiran pantai.

Viona menatap Nate yang nampak hanyut dalam pikirannya. Tanpa sengaja gadis itu telah cukup lama menatap wajah Nate. Ada kekaguman dalam hatinya. Nate memang sangat tampan. Seperti mimpi saat ini dia sedang bersama orang yang sangat dikaguminya.

Sementara Nate masih terhanyut dalam pikirannya sendiri. Sesekali dia nampak menarik napas dalam-dalam kemudian menghembuskannya perlahan. Sesuatu yang berat terasa mencekik aliran napasnya. Ditatapnya lautan lepas seperti tak berbatas. Andai saja hidupnya selepas gulungan ombak yang bebas menepi di pantai manapun. Namun sayangnya kenyataan tidak seperti itu. Selama ini dia merasa hidupnya sangat terkekang. Seperti berada di antara dua ruang sempit yang sewaktu-waktu siap menghimpit tubuhnya. Dadanya terasa sangat sesak.

Tak terasa malam pun turun dengan cepatnya. Terpaan angin mulai menusuk ke persendian. Viona menggigil. Nate memakaikan jaketnya ke tubuh Viona. Gadis itu menundukkan kepalanya.

“kau…., kenapa kau mengajakku kemari?” tanya Viona dengan hati-hati

Nate diam. Meskipun sebenarnya dia bisa mendengar pertanyaan Viona barusan dengan sangat jelas. Dia berusaha menata perasaannya untuk sesaat.

“bagaimana kalau kita menikah saja”

Ucapan Nate terdengar seperti ombak besar yang menghantam bagian terdalam hati Viona. Ucapan itu terdengar bukan seperti sebuah pertanyaan yang memerlukan jawaban darinya, namun terkesan seperti sebuah instruksi atas keputusan yang telah dibuat oleh Nate. Viona memberanikan diri untuk mengangkat wajahnya lalu menatap Nate. Betapa terkejutnya dia karena di saat bersamaan Nate juga menatapnya. Tidak ingin memalingkan wajahnya, tanpa sadar Viona masih terus menatap Nate yang juga tengah menatapnya. Viona tidak bisa memprediksikkan apa yang ada di balik tatapan tersebut. Nate memang merupakan sosok yang tidak bisa ditebak.

“kenapa tiba-tiba kau ingin mengajakku untuk menikah? Bukankah kau sangat membenciku?!”

Nate memalingkan wajahnya. Yang dilihatnya kini adalah lautan lepas yang diatas hamparannya terdapat beberapa kapal kecil yang menangkap ikan di malam hari. Dari kejauhan kapal-kapal tersebut memancarkan cahaya kecil yang terkadang hilang di telan gelapnya malam.

“ada beberapa hal yang tidak kau ketahui tentang diriku, Viona” Nate berusaha menekan nada suaranya bersamaan dengan perasaannya. “Tapi satu hal yang perlu kau ketahui bahwa aku tidak pernah membencimu, bahkan meskipun kau pernah berpacaran dengan Denis”

Seketika Viona terkejut mendengar perkataan Nate. Tiba-tiba hatinya berubah menjadi tak karuan. Perasaannya mulai berkecamuk. Dia tidak menyangka kalau perkataan Nate barusan memberikan efek yang luar biasa terhadap perubahan di hatinya, sehingga dia tidak mampu lagi untuk menahan perasaannya. Logikanya seolah sudah tidak berfungsi lagi. Gadis itu refleks memeluk tubuh Nate erat. Rasa bersalah itu. Entah dari mana datangnya seketika langsung menyerang seluruh anggota tubuhnya. Aliran darahnya seolah terhenti karena tidak kuat lagi menanggung penyesalan yang dirasakannya. Seharusnya dia tidak menjalin hubungan dengan orang lain. Selain dengan Nate yang sudah ditakdirkan untuk hidup bersamanya.

Nate melepaskan pelukan Viona. “Kita pulang sekarang” ucap Nate seraya beranjak dari tempat duduknya. Langkah Nate mendadak terhenti ketika Viona berlari menyusulnya dan menubruk tubuhnya. Memeluknya dari belakang. Gadis itu menangis sejadi-jadinya. Tanpa bisa berkata apapun. Hanya air matalah yang menunjukkan ekspresinya di saat seperti ini.

“cukup, Viona! untuk apa kau bersikap seperti ini?!”

Nate mencoba melepaskan pelukan Viona untuk yang kedua kalinya. Namun gadis itu tampak bersikeras untuk tidak melepaskan dekapannya. Dia tidak perduli apa yang dipikirkan Nate tentang dirinya. Yang di inginkannya hanyalah memeluk tubuh Nate dengan segenap jiwanya. Viona telah melakukan kesalahan terbesar dalam hidupnya dengan menduakan Nate. Dia telah menyakiti hati Nate secara terang-terangan. Bahkan dia telah merusak kepercayaan Nate terhadapnya. Air matanya terus tumpah membasahi kaos yang dipakai Nate. Seketika Nate merasa kasihan melihat Viona yang terus-terusan menangis seperti itu. Namun dirinya bingung harus berbuat apa.

“Viona…………”

Nate benar-benar tidak tahu harus bagaimana untuk menenangkan gadis yang tengah hanyut dalam kesedihannya itu. Satu-satunya yang bisa dilakukannya adalah mendekap tubuh mungil gadis itu perlahan. Nate menepuk-nepuk lembut pundak Viona berusah untuk menenangkannya. Semenit kemudian gadis itu menghentikkan tangisannya. Nate merasa sedikit lega. Dia telah berhasil membuat Viona merasa tenang kembali. Dengan posisi yang masih memeluk Viona, sesekali Nate mengusap sisa-sisa air mata yang masih menempel di pipi Viona dengan ibu jarinya. Viona menjadi terbuai dibuatnya. Nate segera melepaskan pelukannya. “ayo kita pulang”

****

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s