Let Love Lead the Way 1

Sebuah kamar berukuran sedang di lantai dua dibiarkan gelap tak bercahaya. Seseorang berada tepat di balik jendela kamar yang dibiarkan terbuka lebar. Sosok itu berdiri tegak di balik pekatnya malam. Pandangannya lurus kedepan. Entah apa yang ada dipikirannya. Sedikitpun dia tidak ingin beranjak dari tempat dia berdiri saat ini. Sudah sejam lebih sosok itu menikmati angin malam yang berhembus kencang lewat celah-celah jendela. Sepertinya dia memang sengaja mengisi setiap sisi ruang kamarnya dengan segilintir angin yang berlomba-lomba masuk ke ruang gelap tersebut. Bahkan dia sama sekali tidak memperdulikan kibasan tirai berwarna putih yang menari-nari diterpa angin yang sesekali menutupi sebagian tubuhnya.

 

Sosok itu hanyut dalam lamunannya. Lebih tepatnya lagi dia kembali mengenang masa lalunya. Masa lalu yang tidak semuanya indah. Atau bahkan lebih banyak hal yang tidak menyenangkan di dalamnya. Sebuah keadaan yang mengharuskannya untuk menjalani hidup yang bukan hanya untuk dirinya sendiri. Sebuah proses yang membawanya ke tahap menjadi sosok yang terjebak dalam tubuh orang lain. Sebuah keputusan yang sama sekali tidak pernah dia buat. Semuanya telah digariskan dan ditulis rapi oleh Sang perancang kehidupan. Tugasnya hanya menjalani semua ketidaknyamanan dengan hati yang diam seolah memberi kesan ikhlas.

 

19 tahun silam, saat Natalie masih berusia 2 tahun terjadi kecelakaan yang mengerikan. Mobil yang mereka tumpangi secara tidak sengaja menabrak sebuah becak yang ditumpangi sepasang suami isteri. Natalie dan ibunya berhasil selamat, sementara ayah Natalie meninggal seminggu kemudian di rumah sakit.

 

Saat kejadian itu, isteri dari si tukang becak tersebut tengah hamil tua lalu iapun segera dioperasi. Dengan bantuan para suster bayi dalam kandungannya lahir dengan selamat, tetapi ibunya meninggal saat itu juga. Sementara ayahnya mengalami kerusakan pada organ penglihatannya, sehingga ia tidak bisa melihat untuk selamanya.

 

Sebelum bayi dari perempuan tersebut lahir, ayah Natalie telah melakukan perjanjian akan menikahkan Natalie kelak dengan bayi yang ada dalam kandungan isteri dari tukang becak tersebut. Hal ini dilakukan sang ayah sebagai bentuk penebusan dosa atas kecelakaan yang menimpa pasangan suami isteri tersebut. Sepertinya ayah Natalie sangat trauma dengan tragedi yang menimpanya. Pria itu merasa sangat menyesal telah menabrak becak yang tengah memotong jalan tersebut meskipun itu semua tentunya dilakukannya secara tidak sengaja.

 

Bayi perempuan yang lahir di malam itu seolah menjadi saksi atas janji yang dibuat oleh ayah Natalie dikala itu.

 

“perempuan??! Apakah suster yakin bayi itu perempuan??” tanya nyonya Yurina dengan nada khawatir.

“betul, bu, bayi perempuan yang cantik” jawab suster

 

Bagai dihempaskan ke jurang yang sangat dalam nyonya Yurina terduduk lemas tak berdaya. Seluruh urat nadinya terasa kaku sehingga ia tidak mampu lagi untuk berdiri. Iapun menangis sejadi-jadinya, ia tidak tahu harus berbuat apa. Janji yang telah dibuat suaminya seketika seolah menjadi kutukan bagi dirinya dan anaknya.

 

“apa yang harus aku lakukan?”

“bagaimana bisa hal ini terjadi padaku?”

“apa yang harus aku katakan pada anakku nanti??”

“ya tuhan ….., bantu aku”

 

Nyonya Yurina tak henti-hentinya terisak. Sekretaris Jun datang menghampiri.

 

“apa yang harus kita lakukan, nyonya? Bayinya perempuan, tidak mungkin nyonya akan menikahkan putri nyonya dengan bayi itu” kata sekretaris Jun. Rasa cemas yang mendalam tergambar jelas dari raut wajahnya

 

Nyonya Yurina menghapus air matanya, matanya kelihatan sangat sembab. Wajahnya pucat pasi.

 

“bagaimana kondisi ayah dari bayi itu?”

“beliau masih koma. Kata dokter kemungkinan beliau akan kehilangan penglihatannya” jelas sekretaris Jun

“sekretaris Jun, urus semua perlengkapan administrasi rumah sakit untuk mereka. Tinggallah disini untuk menjaga mereka. Aku akan membawa Natalie pergi dari kota ini sesegera mungkin” kata nyonya Yurina lagi.

 

“baik. Saya mengerti nyonya”

 

Natalie yang saat itu masih terlalu kecil untuk mengerti semua kejadian itu hanya bisa mengikuti apa yang dikatakan oleh ibunya, nyonya Yurina. Bahkan dirinya yang sama sekali belum dapat membedakan apa yang benar dan apa yang salah ketika itu hanya bisa menjalani semua proses yang diciptakan oleh ibunya dengan sepenuh hati.

 

Tahun berganti tahun. Natalie masih terus menjalani hidup sesuai dengan konsep awal ibunya. Meskipun selama ini dia tidak pernah tahu apa sebenarnya tujuan ibunya. Namun semua yang dia lakukan tidak lain hanya untuk membuat ibunya bahagia. Tanpa bertanya ataupun membantah. Tanpa mengeluh sedikitpun. Ikhlas. Ya, mungkin hanya itu satu-satunya kata yang bisa disebutkan.

 

Tanpa terasa 19 tahun berlalu dengan sangat cepat. Nate alias Natalie telah menyelesaikan studinya di International Bussiness Program di Perth, bagian barat negara Australia. Iapun kembali ke Indonesia. Nyonya Yurina dengan rasa haru menyambut kedatangan anak semata wayangnya itu.

 

Sosok Nate yang terlihat begitu tegap dengan keperawakan seperti layaknya seorang pria membuat nyonya Yurina merasa puas dengan hasil terapi yang sudah 10 tahun ini dijalani Nate. Nate telah berubah menjadi sesosok pria yang sangat tampan dengan tinggi badan yang sempurna sebagai seorang laki-laki, 180 cm.

 

“miss you, Mom” Nate memeluk erat tubuh nyonya Yurina

 

Suara Nate juga telah berubah menjadi suara laki-laki. Nyonya Yurina tersenyum sambil membalas pelukan anaknya. Sekretaris Kim memberi salam kepada nyonya Yurina. Selama di luar negeri sekretaris Kim lah yang selalu menemani dan merawat Nate.

 

“Nate, ini asisten Ruwi. Mulai sekarang asisten Ru akan menjadi asisten kamu” ucap nyonya Yurina

“salam, bos Nate” kata asisten Ru

Nate mengangguk sambil tersenyum kepada asisten Ru.

 

Mereka makan malam bersama. Setelah itu Nate beranjak ke kamarnya untuk beristirahat. Namun, tiba-tiba pintu kamarnya diketuk dari luar. Nyonya Yurina masuk.

“Nate, ada yang ingin ibu sampaikan kepadamu”

Nyonya Yurina duduk disamping anaknya.

“ada apa bu? sepertinya penting sekali” Nate penasaran

“ikut ibu, ada yang ingin ibu tunjukkan kepadamu”

 

Nate menurut. Nyonya Yurina berjalan ke arah samping lemari pakaian milik Nate, disana terdapat benda seperti saklar listrik. Ibu Nate menekan saklar tersebut, mendadak dinding seolah bergeser kesamping. Nate semakin penasaran. Saat ini yang nampak dihadapan Nate bukan lagi dinding yang terbuat dari tembok, akan tetapi sebuah pintu yang terbuat dari kayu.

 

“sini kalung kamu” pinta nyonya Yurina

 

Nate yang masih terbengong-bengong refleks mengeluarkan kalung yang bergantung dilehernya kemudian menyerahkannya kepada ibunya. Nyonya Yurina membuka kunci pintu tersebut dengan menggunakan buah kalung milik Nate. Pintu terbuka. Nampak ruangan kecil yang gelap gulita. Nyonya Yurina menyalakan lampu sehingga terlihat jelas oleh Nate kini isi ruangan itu. Sebuah meja dan kursi berada di sisi kiri ruangan, foto-foto yang terpampang di dinding, dan sebuah lemari besi. Sekali lagi nyonya Yurina membuka lemari itu dengan kunci yang ada pada kalung Nate.

 

Nate tertegun menatap isi lemari tersebut. Tumpukan uang, emas, batu permata dan barang-barang berharga lainnya terdapat di dalamnya, juga beberapa berkas penting.

 

“Semua ini merupakan milik ibu dan juga mendiang ayahmu. Sekarang semuanya milikmu. Pergunakan sebaik-baiknya untuk keperluanmu dan juga perusahaan” kata nyonya Yurina

 

Nate masih belum percaya dengan apa yang dilihatnya. Selama ini ia sama sekali tidak menyangka di dalam kamarnya terdapat sebuah ruangan rahasia. Nyonya Yurina bersama Nate kembali menutup ruangan rahasia itu seperti semula.

 

“Sekarang beristirahatlah”

 

Nate mengangguk seraya mengantarkan ibunya ke depan pintu kamar. Setelah ibunya berlalu, Nate kembali menutup pintu kamarnya. Dia memadamkan cahaya yang menerangi ruang kamarnya, akan tetapi dia tidak langsung beristirahat. Dia bahkan sedikitpun sudah tidak punya niat untuk mengistirahatkan tubuhnya. Dia mengayunkan langkahnya menuju ke arah jendela. Dibukanya lebar-lebar kedua sisi jendela itu. Angin malam yang segar langsung menyambut wajah Nate dengan lembut.

**

 

Sepertinya memang tidak ada yang namanya kebetulan. Semua hal yang terjadi pasti ada alasannya. Seperti yang terjadi pada Viona dan keluarganya. Kecelakaan yang terjadi di masa lalu telah merenggut nyawa ibunya. Sejak dia dilahirkan dia sama sekali tidak pernah merasakan belaian kasih sayang dari seorang ibu. Satu-satunya yang dia miliki hanyalah ayahnya. Sosok sang ayah adalah segala-galanya baginya. Tidak jarang Viona menganggap bahwa hidup ini tidak adil. Namun sang ayah selalu membesarkan hati Viona. Meskipun beliau tidak bisa melihat raga anaknya, namun beliau selalu dapat merasakan kesedihan anaknya itu dan berusaha untuk selalu menghiburnya.

 

Sore itu, seperti biasanya Viona tengah melamun di teras rumah. Dia memikirkan tentang jalan hidupnya. Gadis itu belum memutuskan apakah dia harus meneruskan pendidikannya ke perguruan tinggi atau hanya akan bekerja saja. Jujur, dia ingin sekali merasakan bangku kuliah, namun dia tidak tega meninggalkan ayahnya sendirian di rumah. Apalagi dengan kondisi ayahnya yang tidak bisa melihat. Rasanya dia ingin bekerja saja. Sekalian agar dia bisa membantu ayahnya untuk mencari uang.

 

Tanpa sengaja tatapannya tertuju pada sosok paruh baya yang tengah berdiri diseberang jalan.

 

“sekretaris Jun!” Viona melambai-lambaikan tangannya sambil tersenyum

“nona sedang apa?” tanya sekretaris Jun saat dirinya telah duduk di samping Viona

“sudah kubilang panggil saja Viona. Aku tidak suka dipanggil nona” Viona cemberut. Sekretaris Jun hanya tertawa kecil.

“sudah siap untuk mendaftar di perguruan tinggi?”

“tidak”

“kenapa?” tanya sekretaris Jun heran

“rasanya aku ingin bekerja saja”

“kasian ayah sendirian di rumah”

“tapi nona harus kuliah. Lagipula ayah nona pasti tidak akan setuju dengan keputusan nona untuk bekerja”

“kan masih ada saya disini. Saya akan sering berkunjung kesini kalau nona sudah kuliah nanti”

“sekretaris Jun…..” Viona masih bingung memberikan jawaban

“lagipula tidak akan lama lagi bos Nate akan bertemu nona” potong sekretaris Jun

“benarkah??! Kapan?”

Sekretaris Jun mengangguk.

“tidak akan lama lagi”

 

Seketika mata Viona nampak berbinar-binar. Finally dia akan bertemu dengan pangeran impiannya. Hatinya merasa sangat senang. Buru-buru dia mencari ayahnya, dia ingin memberitahukan kabar bahagia ini. Sekretaris Jun tersenyum-senyum melihat tingkah Viona. Ayah Viona yang sedari tadi merapikan meja di kamarnya terkejut setengah mati mendengar teriakan anaknya yang memanggil-manggil namanya.

 

“ada apa?” tanya ayah Viona sambil meraba-raba tembok di hadapannya

“ayah……..” napas Viona terengah-engah

“ayah, tidak lama lagi Nate akan datang!”

“benarkah?”

Ayah Viona sedikit terkejut mendengar penjelasan Viona, tetapi hatinya juga ikut senang.

“benar ayah. Sekretaris Jun yang bilang barusan”

“baguslah. Ayah senang mendengarnya” ucap ayah Viona. Senyum tipis tergambar di bibirnya.

 

Viona refleks memeluk ayahnya. Dia ingin ayahnya juga dapat merasakan kebahagian yang tengah dirasakannya saat ini.

 

“Akhirnya waktu itu akan datang juga kepadaku” ucap Viona dalam hati

“baik-baiklah kepadanya. Sesuai perjanjian di masa lalu dia adalah calon suamimu” pesan sang ayah

 

Viona mengangguk. Dirinya tahu apa yang harus dilakukan. Dia memeluk tubuh ayahnya erat-erat.

**

 

Sementara itu ditempat lain Nate yang telah mengetahui maksud dari tujuan ibunya yang ingin menyuruhnya untuk menikah dengan Viona merasa tidak terima. Nate benar-benar menentang keputusan ibunya. Nyonya Yurina berusaha sekuat tenaga untuk meyakinkan anaknya. Wanita itu terpaksa harus mengungkit sebuah perjanjian yang dibuat oleh suaminya di masa lalu.

 

“apa maksud ibu?” Nate memalingkan wajahnya

“jadi semuanya karena perjanjian di masa lalu itu??”

“ibu menyuruhku berubah menjadi seorang laki-laki untuk memenuhi janji yang telah ayah buat?”

“kenapa ibu seperti ini kepadaku??!

 

Nate meninggikan suaranya. Dia benar-benar tidak percaya dengan apa yang dilakukan nyonya Yurina.

 

“maafkan ibu ………” nyonya Yurina terisak

 

Nate mendekati nyonya Yurina. Dia tidak sampai hati melihat ibunya menangis seperti itu. Dia ingin memeluk wanita itu tetapi seketika diurungkannya niat tersebut. Dadanya terasa sesak.

 

“aku kira ……..”

“aku kira ibu melakukannya karena ibu ingin aku menggantikan ayah untuk melindungi ibu. Aku benar-benar tidak bisa percaya ini”

 

Nate memegang kepalanya yang seketika terasa berat. Dia memijit-mijit alisnya perlahan. Sakit kepalanya terasa sampai ke matanya sehingga membuat mata Nate menjadi berkaca-kaca.

 

“tidak. Aku tidak bisa terima ini!”

“maafkan ibu, Nate …..”

 

Nate meninggalkan nyonya Yurina begitu saja. Dia memacu mobilnya dengan kecepatan tinggi. Dia berteriak sekencang-kencangnya. Hatinya berkecamuk. Kenapa ibu melakukan ini padaku? Kenapa aku yang harus menanggung akibat dari perjanjian masa lalu itu?? Kenapa ibu begitu egois??! Tangannya tak henti-hentinya memukul-mukul setir mobil. Seketika dia teringat bagaimana ibunya memperlakukannya seperti layaknya seorang anak laki-laki sejak usianya masih 3 tahun. Ibunya tidak memperbolehkannya untuk mengenakan pakaian atau asesoris yang berbau girly. Bahkan ibunya sempat memaksanya untuk menjalani terapi medicine sejak dia berusia 7 tahun dan mengganti identitasnya. Nate benar-benar merasa kecewa mengingat semuanya.

 

Nate menghentikkan mobilnya di depan club malam. Berjam-jam kemudian dia nampak sibuk menghabiskan setiap minuman yang ada dihadapannya sampai dirinya benar-benar mabuk.

 

Sementara itu Asisten Ru yang tidak bisa membiarkan bosnya pergi begitu saja mencoba mencari Nate. Dalam kondisi perasaan yang kurang baik seperti itu dia tidak ingin bosnya sampai melakukan hal-hal yang bisa merugikan diri sendiri. Akhirnya wanita itu melihat mobil Nate yang terparkir di depan club malam. Diapun segera menuju ke tempat yang tampak tidak terlalu ramai itu. Beberapa menit kemudian dia telah berdiri di hadapan Nate yang tengah tak sadarkan diri. Dilihatnya 2 botol minuman yang telah dihabiskan isinya dan beberapa puntung rokok berserakan di atas meja. Hatinya goyah melihat kondisi bosnya yang seperti itu.

 

“ayo pulang bos”

“sudah cukup untuk malam ini”

 

Wanita itu memapah tubuh Nate sampai ke dalam mobil. Penampilan Nate tampak sangat berantakan. Sesampainya di rumah, dia langsung merebahkan tubuh Nate ke atas pembaringan. Kemudian saat dia ingin melangkah meninggalkan kamar, tiba-tiba Nate meraih tangan wanita itu. Asisten Ru menoleh.

 

“jangan pergi. Jangan tinggalkan aku” Nate bergumam, matanya setengah tertutup.

 

Belum sempat dia melepaskan tangannya, seketika Nate menarik tangan asisten Ru membuatnya terjatuh diatas tubuh Nate. Tidak sengaja mulutnya menyentuh bibir Nate. Wanita itu terkejut setengah mati. Dia buru-buru menarik kembali tubuhnya untuk berdiri. Mukanya nampak memerah menahan rasa malu. Sementara Nate sudah tertidur pulas. Nyonya Yurina tiba-tiba masuk ke dalam kamar Nate. Asisten Ru menundukkan kepalanya memberi hormat.

 

“bagaimana keadaannya?”

“bos sangat mabuk, nyonya. Tapi saat ini bos sudah tertidur”

 

Nyonya Yurina menghela napas. Wanita itu merasa bersalah kepada anaknya.

“ini pasti terasa sangat berat baginya” mata nyonya Yurina mulai berkaca-kaca

Nyonya Yurina berusaha menekan perasaannya. Lalu beliau menatap asisten Ru.

“terima kasih, asisten Ru”

Asisten Ru terkejut, namun dia tidak berani menatap nyonya Yurina. Dia hanya diam sambil mendengarkan ucapan nyonya Yurina.

“terima kasih telah menjaga Nate selama ini …”

“Sejak dia berada di Jepang dan sampai saat ini. Terima kasih”

 

Kali ini asisten Ru benar-benar terkejut mendengar kata-kata nyonya Yurina. Wanita itu mengangkat kepalanya. Nyonya Yurina tersenyum kepadanya.

 

“aku tahu kau adalah orangnya”

“satu-satunya orang yang merawat luka Nate akibat tersayat samurai saat latihan”

“kau merawat semua luka-lukanya sampai sembuh”

“nyonya, saya ……….” Asisten Ru menghentikkan ucapannya.

“bicaralah”

“saya sempat berpikir bahwa bos Nate tidak akan bertahan dengan latihannya dikala itu”

“tapi ternyata saya salah. Bos Nate bukanlah tipe orang yang mudah menyerah” ucap asisten Ru sambil tersenyum.

 

Asisten Ru menatap Nate yang tengah tertidur pulas di pembaringannya. Dia menghela napas perlahan. Belum pernah sekalipun dia mengeluarkan kata-kata pujian seperti itu sebelumnya. Namun entah kenapa jauh di lubuk hatinya yang paling dalam wanita itu merasakan kekaguman yang luar biasa terhadap sosok Nate.

 

“bos Nate sangat mahir memainkan samurai. Beliau bahkan tidak perduli meskipun seluruh tubuhnya berdarah-darah”

“bos Nate juga sangat pandai menggunakan senjata api” kenang asisten Ru

“oh ya?” nyonya Yurina sedikit tidak percaya

Asisten Ru mengangguk sambil tersenyum.

“satu-satunya alasan bos Nate berlatih keras adalah supaya beliau bisa melindungi nyonya”

 

Seketika perasaan nyonya Yurina kembali sedih. Beliau meneteskan air mata. Sebentuk penyesalan mendalam tergambar jelas di raut wajahnya.

 

“aku tahu. Untuk itu aku membutuhkan kau berada disampingnya” ucap nyonya Yurina lagi

“terima kasih atas kepercayaan nyonya kepada saya”

Nyonya Yurina menghapus air matanya.

“sudah waktunya nyonya beristrahat” asisten Ru mengingatkan

Mereka kemudian meninggalkan kamar Nate dengan pikiran masing-masing.

****

Bersambung

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s